Setelah Penangkapan Wasit, Selanjutnya Pelatih dan Pemain?

Promo Agen Bola – Skandal pengaturan skor di sepak bola nasional nampaknya jadi semakin “menegangkan” sesudah penangkapan wasit, Nurul Safarid. Nurul ditangkap tim Satgas Antimafia Bola di Garut, Jawa Barat, terhadap Senin, 7 Januari 2019. Nurul jadi nama pertama tersangka yang berprofesi wasit didalam skandal mafia bola ini. Diungkapnya keterlibatan wasit di didalam pengaturan skor bakal mengakses pintu yang lebar untuk menjerat tersangka lainnya. Mengapa demikian? Di didalam alur permainan match fixing ini, wasit jadi keliru satu yang bisa dikatakan aktor penting. Di didalam skenario yang umum, para perantara atau disebut broker bakal mempertemukan wasit dan pemesan skor, sekaligus menolong supaya wasit bisa menolong terlaksananya perbuatan jahat ini.

Jika hingga sekarang jaringan para broker telah ditangkap dan oknum wasit telah ditindak, maka yang paling penting sekarang adalah tunggu gerak seterusnya supaya Satgas menindak komponen lainnya yakni pelatih dan pemain, kecuali terbukti bersalah. Karo Penmas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo telah memberi sinyal bahwa penyelidikan bakal mengarah ke sana. Menurut Dedi kecuali berfokus terhadap pertandingan pada Persibara melawan PSS Pasuruan, maka pelatih dan pemain ke dua klub bakal diminta keterangan pasca penangkapan Nurul. JIka benar terbukti, maka “ocehan” dari para pelaku match fixing yang telah dihukum terbukti benar. Saat tayangan Mata Najwa, meski tidak menyebut siapa, peran para pelatih didalam lingkaran mafia ini cukup sentral.

Menurut pernyataan runner yang telah dihukum seumur hidup oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Bambang Suryo, pelatih yang melakukan kecurangan bakal ditawari oleh runner sejumlah uang untuk menegaskan skor yang dipesan bisa terjadi dengan baik di lapangan. Runner sendiri adalah perpanjangan tangan oleh para bandar judi besar yang beroperasi di sepak bola nasional. Selanjutnya, pelatih yang berkaitan bakal membagikan uang kepada para anggota tim supaya menegaskan seluruhnya terjadi dengan baik. Apabila kenakan perspektif peran para pelaku, pelatih adalah orang lapangan sebelum akan hingga di level paling dasar, yakni pemain.

Apakah pemain Persibara dan PSS Pasuruan terlibat? Meski belum terbukti, tetapi kudu diakui di level inilah terlalu rentan termakan godaan para mafia. Pemain sendiri dihubungi kecuali pelatih tidak mau mengikuti keinginan para mafia, dan terlalu menyedihkan dikarenakan berdasarkan pengalaman, para pemain jarang menampik untuk melakukan perbuatan tercela ini. Fakta ini disempurnakan dengan telah dihukumnya striker PSMP Mojokerto, Krisna Adi oleh Komdis PSSI. Kecurigaan terhadap Kresna terjadi selagi PSMP berhadapan dengan Aceh United terhadap 19 November . Berpeluang menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti, Krisna Adi sengaja mengarahkan bola ke luar, tendangan “penalti” yang diakui terkonyol oleh penikmat sepak bola.

“Dari pengamatan secara teknik, teknik itu (tendangan Kresna) bukan untuk menendang tetapi untuk mengumpan” ujar Fachri Husaini, mantan pelatih sekaligus pemain timnas berkomentar selagi tayanga Mata Najwa. Krisna sendiri pada akhirnya dihukum berat oleh Komdis PSSI, ia dihukum larangan beraktivitas didalam kegiatan sepakbola di lingkungan PSSI seumur hidup.